Thursday, December 24, 2020
" Melawan Arus " adalah judul dari lukisan ekspresionis modern ini
Monday, December 21, 2020
Membuka tabir makna dalam lukisan
Friday, December 18, 2020
Makna indah di dalam lukisan ekspresionis " Menumbuhkan Cahaya Harapan "
Friday, December 11, 2020
Lukisan abstrak ekspresionis " Melintasi pusaran waktu "
Saturday, December 5, 2020
Motivasi dari sebuah karya seni " Keberanian mengambil keputusan "
Wednesday, December 2, 2020
Lukisan ekspresionis " Semangat putih " jalan indah menuju kebahagiaan
Sunday, November 29, 2020
Misteri dibalik lukisan Ekspresionis " Melawan Hitam "
Friday, November 27, 2020
Karya seni modern berserah diri tingkatan tertinggi hubungan Manusia dengan Tuhan
Thursday, November 26, 2020
Makna Lukisan modern " Dunia imajinasi tanpa batas "
Tuesday, November 24, 2020
Lukisan abstrak semangat dan kebebasan adalah kombinasi kekuatan untuk sukses
Sunday, November 22, 2020
Saat manusia berani bebas berekspresi untuk hal positif, tidak ada beban dalam dirinya
Friday, November 20, 2020
Menemukan makna indah dalam Lukisan
Thursday, November 19, 2020
Syair lukisan Abstrak setiap jiwa hanyalah sebutir debu
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam ilusi kebesaran. Jabatan, kekayaan, kekuasaan, popularitas, kecerdasan, dan berbagai pencapaian duniawi kerap membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada yang lain. Tidak sedikit yang mulai memandang rendah sesamanya, merasa paling hebat, paling kuat, paling berpengaruh, bahkan seolah-olah menjadi pusat dari segala sesuatu. Padahal jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, sejatinya setiap jiwa hanyalah sebutir debu, bahkan mungkin lebih kecil dari itu.
Lukisan abstrak modern berjudul "Setiap Jiwa Hanyalah Sebutir Debu" menghadirkan perenungan mendalam mengenai hakikat keberadaan manusia. Melalui komposisi yang sederhana namun sarat makna, karya ini mengajak penikmatnya untuk merenungkan posisi manusia di tengah luasnya alam semesta, perjalanan waktu, dan kekuasaan Sang Pencipta.
Secara visual, lukisan ini didominasi oleh hamparan warna tanah yang luas di bagian bawah, sementara bagian atas menghadirkan bidang putih yang menjulang dengan sapuan gelap yang menyerupai batang-batang pohon tua atau bayangan-bayangan waktu yang berdiri kokoh. Di bagian paling bawah tampak tekstur kasar dan butiran-butiran kecil yang dapat dimaknai sebagai debu, tanah, atau sisa-sisa kehidupan yang perlahan kembali menyatu dengan alam.
Komposisi ini menghadirkan suasana hening dan kontemplatif. Tidak ada keramaian. Tidak ada simbol kemegahan. Tidak ada tanda-tanda kekuasaan atau kemewahan. Yang tersisa hanyalah ruang, waktu, dan kesadaran tentang betapa kecilnya manusia di hadapan semesta.
Debu dalam karya ini menjadi simbol yang sangat kuat. Debu adalah sesuatu yang sering kali tidak diperhatikan. Ia kecil, ringan, mudah terbang oleh angin, dan hampir tidak memiliki arti dalam pandangan manusia. Namun justru melalui simbol debu inilah karya ini menyampaikan pesan spiritual yang mendalam.
Manusia lahir dari sesuatu yang sederhana. Hidup hanya sementara. Dan pada akhirnya akan kembali menjadi bagian dari tanah. Segala yang saat ini dianggap besar akan mengalami akhir. Rumah megah akan lapuk. Gedung pencakar langit akan menua. Kekayaan akan berpindah tangan. Kekuasaan akan berganti pemilik. Nama besar perlahan akan dilupakan oleh generasi berikutnya. Bahkan tubuh manusia yang selama hidup dirawat, dibanggakan, dan dijaga pada akhirnya akan kembali menyatu dengan tanah dan menjadi debu.
Lukisan ini seolah mengingatkan bahwa waktu adalah kekuatan yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan penuaan, menolak kematian, atau membawa seluruh miliknya ketika meninggalkan dunia. Cepat atau lambat, semua akan ditinggalkan atau dihancurkan oleh waktu.
Ironisnya, meskipun sejarah manusia penuh dengan pelajaran tentang kehancuran akibat kesombongan, fenomena itu terus berulang hingga hari ini. Dari masa ke masa, selalu ada orang yang merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Merasa paling berkuasa karena jabatannya. Merasa paling hebat karena ilmunya. Merasa paling kaya karena hartanya. Merasa paling kuat karena pengaruhnya.
Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa banyak kerajaan runtuh karena kesombongan. Banyak pemimpin kehilangan kehormatan karena keangkuhan. Banyak orang besar jatuh karena merasa dirinya tidak mungkin tergantikan. Namun manusia sering kali lupa bahwa apa yang dimiliki hari ini hanyalah titipan yang bersifat sementara.
Dalam konteks tersebut, lukisan ini bukan hanya berbicara tentang kerendahan hati, tetapi juga tentang kesadaran eksistensial. Kesadaran bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling tinggi di mata manusia, melainkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang bernilai di hadapan Tuhan.
Karya ini mengajak penikmatnya untuk bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sebenarnya layak dibanggakan?
Apakah kekayaan yang suatu hari akan ditinggalkan?
Apakah jabatan yang sewaktu-waktu dapat berakhir?
Apakah pujian manusia yang mudah berubah?
Ataukah kebaikan yang telah diberikan kepada sesama?
Karena ketika ajal tiba, seluruh atribut duniawi kehilangan maknanya. Tidak ada rekening bank yang ikut dibawa. Tidak ada kendaraan mewah yang menemani perjalanan terakhir. Tidak ada gelar, pangkat, atau popularitas yang mampu mengubah kenyataan bahwa manusia kembali kepada Tuhannya dengan tangan kosong. Yang tersisa hanyalah jejak kehidupan Tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Dan amal perbuatan yang telah dilakukan selama hidup.
Namun karya ini tidak sedang merendahkan nilai manusia. Sebaliknya, ia justru mengangkat martabat manusia pada tingkat yang lebih tinggi. Sebab meskipun manusia hanyalah seperti sebutir debu di hadapan kebesaran Tuhan, setiap jiwa tetap memiliki nilai yang sangat berharga. Debu memang kecil, tetapi keberadaannya tetap memiliki makna. Demikian pula manusia.
Ukuran kebesaran seseorang bukan ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri di atas orang lain, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada sesama. Bukan tentang berapa banyak yang dimiliki, tetapi tentang berapa banyak yang dibagikan. Bukan tentang seberapa kuat ia terlihat, tetapi tentang seberapa tulus ia menggunakan kekuatannya untuk kebaikan.
Pada akhirnya, "Setiap Jiwa Hanyalah Sebutir Debu" adalah sebuah pengingat tentang kerendahan hati, kefanaan hidup, dan nilai sejati manusia. Karya ini mengajak kita untuk melepaskan kesombongan yang sering membutakan hati dan menggantinya dengan kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia hanyalah sementara.
Karena pada saat semua yang dibanggakan sirna, yang tersisa bukanlah kekayaan, kekuasaan, ataupun ketenaran, melainkan kebaikan yang telah ditanamkan dalam kehidupan. Dan meskipun manusia hanyalah sebutir debu di hadapan kebesaran Tuhan, debu itu dapat memiliki derajat yang sangat tinggi apabila hidupnya dipenuhi manfaat, kasih sayang, tanggung jawab, dan ketulusan kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.
Koleksi lukisan tersedia, melayani pemesanan dan pengiriman lukisan ke seluruh Indonesia, jaminan lukisan terkirim dalam kondisi baik sampai di alamat tujuan, gratis ongkos kirim.
Email: henoairlangga@gmail.com
Telp-Whatsapp: 081 329 7 329 11
Monday, November 16, 2020
Saat Lukisan Abstrak berbicara tentang waktu
Email: henoairlangga@gmail.com
Telp-Whatsapp: 081 329 7 329 11
Sejak saat Dunia diciptakan, waktu tidak pernah berubah, siang dan malam senantiasa berjalan secara teratur, yang berubah cepat adalah perkembangan jaman, generasi berganti generasi, setiap jaman terjadi perubahan serta perbedaan cara dan gaya hidup.
Waktu terus berjalan, perubahan jaman terus berkembang , generasi berganti generasi, gaya dan cara hidup terus mengalami perubahan, semua ada dalam lingkaran waktu dan tidak ada yang abadi.
Misteri waktu ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan, manusia tidak bisa kembali ke waktu masa lalu, segala yang terjadi di masa sekarang adalah sebab akibat dari masa lalu, dan manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.
Friday, November 13, 2020
Lukisan Wanita anggun bermain piano
Wednesday, November 4, 2020
Lukisan 5 anak kucing lucu menggemaskan
Lukisan 5 anak kucing lucu menggemaskan, siapapun yang melihat tingkah polah para anak kucing ini akan terhibur, kelucuan anak kucing ini diabadikan dalam sebuah karya seni lukisan, momen dimana 5 anak kucing seolah sadar bahwa mereka sedang dipotret, dengan kepolosan mereka saling unjuk pose berdesakan seolah berebut ingin menjadi yang terdepan.
Momen istimewa 5 anak kucing ini dilukis dengan goresan-goresan artistik tebal bertekstur, dengan goresan dan cat tebal seolah menegaskan dan menonjolkan bagaimana sikap kepolosan mereka yang seolah sadar dan berebut ingin menjadi yang terdepan.
Wednesday, October 28, 2020
>> LUKISAN KONTEMPORER ARTISTIK " POTRET WAJAH PICASSO "
Tuesday, October 27, 2020
>> LUKISAN POTRET WAJAH PELUKIS DULLAH DALAM GORESAN ARTISTIK BERTEKSTUR
Monday, October 26, 2020
>> LUKISAN PAHLAWAN NASIONAL " BUNG HATTA "
Sunday, October 25, 2020
Gejolak Dunia dan Masa Depan Manusia, Refleksi dalam Sebuah Lukisan Modern
Sejak awal peradaban manusia, dunia tidak pernah benar-benar berada dalam keadaan diam. Bumi terus berputar pada porosnya, waktu terus bergerak tanpa henti, dan sejarah terus menuliskan babak-babak baru yang penuh perubahan. Setiap generasi menghadapi tantangannya sendiri. Setiap zaman memiliki gejolak yang berbeda. Ketika satu konflik berakhir, konflik lain muncul. Ketika satu krisis mereda, tantangan baru mulai tumbuh. Dunia selalu bergerak dalam siklus dinamika yang tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi.
Lukisan modern ekspresionis berjudul "Saat Dunia Bergejolak" karya Heno Airlangga merupakan refleksi visual yang kuat tentang realitas tersebut. Melalui sapuan-sapuan kuas yang agresif, tekstur yang kasar, bentuk-bentuk yang terdistorsi, serta perpaduan warna gelap, merah, putih, dan cokelat yang saling bertabrakan, karya ini menghadirkan suasana ketidakpastian, tekanan, dan perubahan yang terus berlangsung di panggung kehidupan dunia.
Secara visual, lukisan ini tidak menawarkan ketenangan. Tidak ada garis yang benar-benar stabil. Tidak ada bentuk yang sepenuhnya utuh. Semua elemen tampak bergerak, bertabrakan, dan berjuang mencari keseimbangan. Komposisi seperti ini menjadi simbol dari kondisi dunia yang selalu berada dalam proses perubahan. Dunia bukanlah tempat yang statis, melainkan sebuah sistem besar yang dipenuhi interaksi kepentingan, kekuatan, ambisi, dan berbagai peristiwa yang saling memengaruhi.
Warna-warna gelap yang mendominasi karya ini menggambarkan berbagai ketidakpastian yang sering menyelimuti kehidupan global. Sementara semburat merah yang muncul di berbagai bagian lukisan menghadirkan kesan konflik, ketegangan, dan energi destruktif yang sewaktu-waktu dapat muncul dalam kehidupan manusia. Di sisi lain, warna putih yang menyusup di antara lapisan-lapisan warna gelap memberikan kesan harapan, kemampuan bertahan, dan peluang untuk terus melangkah di tengah kekacauan yang ada.
Karya ini mengajak penikmatnya melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Dalam kehidupan modern, gejolak dunia tidak lagi hanya menjadi urusan negara-negara besar atau para pemimpin dunia. Dampaknya dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat, bahkan hingga individu yang berada jauh dari pusat peristiwa.
Ketika perang terjadi di satu wilayah, harga energi dan bahan pangan dapat berubah di berbagai belahan dunia. Ketika terjadi konflik geopolitik, pasar keuangan bergejolak dan memengaruhi perekonomian masyarakat luas. Ketika bencana alam melanda suatu negara, rantai pasokan global dapat terganggu. Ketika persaingan pengaruh antarnegara meningkat, arah investasi, perdagangan, dan peluang ekonomi pun ikut berubah.
Semua peristiwa tersebut pada akhirnya menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat biasa. Harga kebutuhan pokok berubah, lapangan pekerjaan bergeser, peluang usaha muncul dan hilang, serta cara hidup masyarakat ikut beradaptasi dengan keadaan yang baru.
Lukisan ini seolah memperlihatkan bahwa manusia modern hidup dalam sebuah jaringan besar yang saling terhubung. Tidak ada lagi peristiwa besar yang benar-benar jauh. Apa yang terjadi di satu sudut dunia dapat memberikan dampak hingga ke rumah-rumah kecil, keluarga sederhana, bahkan keputusan-keputusan pribadi setiap individu.
Namun di balik gejolak tersebut, karya ini juga menyampaikan pelajaran penting mengenai kemampuan bertahan hidup. Sejarah menunjukkan bahwa bukan selalu yang paling kuat yang mampu bertahan, melainkan mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan.
Perubahan adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Gejolak adalah bagian alami dari perjalanan dunia. Ketidakpastian adalah kenyataan yang harus diterima.
Pertanyaannya bukan apakah dunia akan kembali bergejolak, melainkan apakah manusia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Dalam konteks inilah lukisan "Saat Dunia Bergejolak" menjadi sangat relevan. Karya ini mengingatkan bahwa setiap individu perlu membangun strategi hidup yang lebih matang. Ketika keadaan sedang baik, itulah saat terbaik untuk memperkuat fondasi. Ketika peluang masih terbuka, itulah saat untuk meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan.
Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci utama. Dunia yang berubah cepat menuntut manusia untuk terus belajar. Teknologi berkembang, pola ekonomi bergeser, kebutuhan pasar berubah, dan cara hidup masyarakat pun ikut mengalami transformasi. Mereka yang kaku terhadap perubahan berisiko tertinggal, sementara mereka yang mampu membaca arah perubahan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.
Selain adaptif, karya ini juga menekankan pentingnya antisipasi. Banyak krisis besar tidak datang secara tiba-tiba. Sering kali terdapat tanda-tanda yang muncul jauh sebelumnya. Individu yang memiliki kebiasaan berpikir ke depan akan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan. Mereka memahami bahwa ketenangan hari ini bukan jaminan bahwa keadaan akan selalu sama esok hari.
Di tengah dunia yang terus berubah, manusia memerlukan lebih dari sekadar keberanian. Mereka membutuhkan ketenangan berpikir, kemampuan membaca situasi, fleksibilitas dalam bertindak, dan kesiapan menghadapi berbagai skenario kehidupan. Seperti seorang pelaut yang tidak dapat mengendalikan badai, tetapi dapat mempersiapkan kapalnya agar mampu melewati gelombang yang datang.
Pada akhirnya, "Saat Dunia Bergejolak" bukanlah lukisan tentang ketakutan, melainkan tentang kesadaran. Kesadaran bahwa dunia akan terus bergerak, perubahan akan terus datang, dan gejolak akan selalu menjadi bagian dari sejarah manusia. Namun di tengah semua itu, selalu ada ruang bagi mereka yang siap, yang mampu beradaptasi, dan yang memiliki strategi untuk menghadapi masa depan.
Karya ini menjadi pengingat bahwa ketika dunia sedang bergejolak, harapan tidak terletak pada kemampuan menghentikan perubahan, melainkan pada kemampuan manusia untuk memahami perubahan tersebut, menyesuaikan diri, dan tetap melangkah maju. Karena dalam setiap gejolak, selalu ada tantangan yang harus dihadapi, tetapi juga peluang yang menunggu untuk ditemukan.
Koleksi lukisan tersedia, melayani pemesanan dan pengiriman lukisan ke seluruh Indonesia, jaminan lukisan terkirim dalam kondisi baik sampai di alamat tujuan, gratis ongkos kirim.
Email: henoairlangga@gmail.com
Telp-Whatsapp: 081 329 7 329 11
Friday, October 23, 2020
>> LUKISAN ABSTRAK EKSPRESIONIS " MENUTUP HITAM DENGAN ABU-ABU "
Wednesday, October 21, 2020
>> LUKISAN ABSTRAK MODERN " MELEWATI SETIAP MASA "
Emosi perasaan
manusia merespon setiap kejadian, perjalanan masa kehidupan tidak statis, apa
yang terjadi didalamnya adalah misteri,manusia tidak mengetahui apa yang akan
terjadi pada dirinya, apa yang akan terjadi dalam kehidupanya dimasa depan,
meski hanya dalam hitungan detik.
Segala kejadian
disetiap masa harus disikapi dengan ketabahan dan kesabaran, terutama
kejadian-kejadian duka atau musibah yang pasti akan dilalui, dimana datangnya
seringkali tidak disangka dan tidak diduga secara tiba-tiba, karena seringkali
manusia tidak siap dengan kejadian-kejadian tersebut, depresi, trauma bahkan gila jika
manusia tidak siap dan tidak menguatkan dirinya.
Ada duka juga
ada bahagia, saat manusia melalui masa bahagia, masa kemudahan, senantiasa
menikmati dan mensyukuri karunia Tuhan adalah sikap terbaik agar masa-masa
indah tersebut akan senantiasa selalu bersamanya hingga akhir hayat.
Namun,
kebanyakan manusia terlena dalam kenikmatan sesaat tersebut, saat masa senang
berganti masa susah, mereka tidak siap, memarahi nasib, menyalahkan Tuhan,
depresi, gila bahkan bunuh diri adalah segala kemungkinan yang bisa terjadi
saat manusia tidak siap menghadapi masa sulit.
Melewati setiap
masa adalah pertaruhan derajat manusia dihadapan Tuhan, apakah manusia akan
berhasil melewati segala ujian ataukah gagal. Tuhan akan meninggikan derajat
manusia melebihi kemuliaan malaikat saat berhasil dalam berbagai ujian
kehidupan, sebaliknya Tuhan akan merendahkan derajat manusia melebihi binatang
saat menjadi manusia jahat dan gagal dalam ujian kehidupanya.
Monday, October 19, 2020
>> LUKISAN ABSTRAK MELALUI MASA SULIT DI TENGAH PANDEMI COVID -19
Saturday, October 17, 2020
>> LUKISAN POTRET LEONARDO DA VINCI SEORANG SENIMAN MULTI TALENTA
Thursday, October 15, 2020
>> MARK ROTHKO TOKOH PELOPOR LUKISAN ALIRAN ABSTRAK EKSPRESIONIS
Dalam dunia seni rupa siapa yang tidak kenal dengan Mark Rothko, seniman fenomenal dengan karya-karya lukisanya yang sangat sederhana namun bernilai fantastis hingga diatas Rp.1 Triliun.
Diatas adalah lukisan potret wajah seniman Mark Rothko yang saya lukisan dengan nuansa dan goresan sesuai dengan keinginan saya, tanpa ada arahan atau masukan dari orang lain, saya benar-benar bebas dan terlepas dari segala beban dalam membuat lukisan potret Mark Rothko ini.
Untuk mengenal sedikit lebih dalam siapakah pelukis Mark Rothko, berikut ulasan singkatnya.
Mark Rothko lahir pada tanggal 25 September 1903 dan meninggal pada Tahun 1970. Mark Rothko lahir dari orang tua yang berdarah Rusia dan Yahudi, meskipun dia berkewarnegaraan Amerika. Tidak heran banyak karyanya yang mengamati radikalisme politik di Eropa Timur dan juga tentang para imigran Yahudi yang sampai di Amerika sekitar tahun 1880 – 1920. Dia lahir dari keluarga yang berpendidikan tinggi, dan orang tuanya lebih mengajarkan hal-hal yang sekular dan politis kepada anak-anak mereka ketimbang memberikan pelajaran agama. Masa kecil Rothko penuh dengan ketakutan, karena saat itu orang Yahudi sering disalahkan karena kejadian-kejadian buruk yang terjadi saat itu.
Kesuksesan Rothko sebagai seorang pelukis mulai terjadi saat dirinya diliput oleh majalah Fortune, dan juga karena lukisannya banyak dibeli oleh orang-orang terkenal. Keuangannya lalu membaik, tapi saat itu dia masih mengajar di Brooklyn College. Pada tahun 1954, Rothko mengadakan pameran tunggalnya yang pertama di Art Institute of Chicago. Tapi ternyata ketenaran ini malah membuat Rothko merasa semakin tidak dimengerti oleh orang-orang. Dia takut orang-orang hanya membeli lukisannya supaya terlihat keren, dan bukan karena benar-benar suka dengan karyanya.
Wednesday, October 14, 2020
>> LUKISAN JENDERAL BESAR SOEDIRMAN BERNUANSA KLASIK
Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam.
Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff.
Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu.
Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Saturday, October 10, 2020
>> LUKISAN MELODI CINTA SEPASANG IKAN ARWANA
Friday, October 9, 2020
>> MOTIVASI, SEMANGAT DAN KEKUATAN DIBALIK LUKISAN ABSTRAK MODERN
Setiap manusia dibekali kekuatan didalam dirinya masing-masing, seberapa besar potensi kekuatan tersebut ? setiap orang memiliki tingkat kemampuanya masing-masing didalam menggunakan potensi kekuatan didalam dirinya, semakin besar tingkat keberanian seseorang, semakin besar pula potensinya untuk menggunakan kekuatan didalam dirinya.
Kekuatan dalam diri meliputi kekuatan imajinasi, kekuatan pikiran ( mental ), kekuatan kesabaran ( hati ), kekuatan phisik ( otot ), dengan seluruh sumber kekuatan dalam diri, seseorang bisa melakukan lompatan besar dalam hidupnya, yang pada awalnya dianggap orang lain remeh dan rendah, seiring berjalanya proses waktu, ia bisa membalikan keadaan, ia menjadi orang besar yang dihormati dan disegani.
Sebaliknya, banyak orang yang selama hidupnya datar saja, atau bahkan untuk mengurus diri sendiri tidak bisa, tidak berani melangkah mengambil lompatan ekstrim dalam hidupnya karena takut akan bayangan – bayangan nya sendiri atau karena kemalasan, merasa sudah nyaman dalam tekanan keterbatasan hidup yang dijalani. Padahal mereka memiliki semua potensi kekuatan dalam diri untuk melompat tinggi menjadi apapun yang di inginkan, menjadi manusia yang berpengaruh bagi kehidupan.
Batasan kekuatan dalam diri seseorang adalah takut dan kemalasan, sedangkan pendobrak batasan kekuatan dalam diri adalah semangat dan keberanian.
Pada setengah bagian atas lukisan adalah goresan abstrak bidang perspektif luas dan tinggi merupakan gambaran peluang atau kesempatan yang diberikan oleh kehidupan kepada semua manusia adalah sama, mereka bisa melompat tinggi untuk menjadi apapun yang di inginkan, dengan berbekal potensi kekuatan dalam diri.
Garis abstrak membentang horizontal ditengah lukisan adalah gambaran batasan “ kekuatan dalam diri “ dengan “ hamparan cita-cita “ untuk mewujudkanya harus memiliki keberanian untuk mendobrak batasan yang mengekang “ kekuatan dalam diri “



































