Daftar pengunjung terbaru

Thursday, February 19, 2026

>> Lukisan sindiran simbolik saat sistem sebuah Bangsa sulit untuk maju

Judul: Orang Kecil Menggendong Orang Besar
Seniman: Heno Airlangga
Media: Cat Akrilik diatas kanvas
Ukuran: 150 x 100 cm
Tahun: 2025
Harga: Rp.68.000.000;



Informasi dan pembelian:
Email: javadesindo@gmail.com
Tepl-Whatsapp: 081329732911

Sekilas terlihat lucu. Seorang pria kecil, kurus, wajahnya kusut penuh lelah, menggendong pria besar, rapi, berdasi, tersenyum lebar seperti baru menang undian. Kontrasnya begitu tajam hingga terasa seperti lelucon visual—yang kecil bekerja keras, yang besar terlihat santai dan bahagia.

Namun semakin lama kita memandang, senyum itu mulai terasa getir.

Pria kecil itu bertelanjang kaki. Kakinya langsung menyentuh tanah, mungkin panas, mungkin kasar. Celananya tergulung, bajunya sederhana. Wajahnya tidak marah, tidak juga melawan—hanya pasrah, letih, dan mungkin sedikit bingung mengapa beban di pundaknya terasa makin berat.

Sementara yang digendong? Jasnya rapi, sepatu mengkilap, wajahnya sumringah. Ia tampak nyaman. Bahkan terlalu nyaman. Tangannya memeluk pundak si kecil, bukan untuk membantu, tapi agar tidak jatuh dari “kenikmatan”.

Lukisan ini seperti komedi yang tertawa pelan, tapi menampar keras.

Ia berbicara tentang ketimpangan. Tentang yang bekerja keras namun tetap kurus. Tentang yang duduk nyaman di atas jerih payah orang lain. Tentang sistem yang kadang membuat yang lemah memikul yang kuat.

Uniknya, pria kecil itu masih berdiri. Masih mampu berjalan. Artinya, kekuatan sejati justru ada pada yang terlihat lemah. Tanpa dirinya, si gemuk tak akan bisa tinggi. Tanpa pundaknya, tak ada senyum selebar itu.

Ada ironi di sini:

  • Yang berkeringat justru tidak menikmati hasil.

  • Yang tersenyum lebar justru tidak menginjak tanah.

Lukisan ini juga menyelipkan humor halus. Bayangkan, kalau si kecil tiba-tiba bilang, “Turun dulu, Pak, saya mau istirahat.” Seketika dunia si besar akan terasa berbeda. Sepatunya yang mengkilap akan langsung menyentuh realita.

Pesan moralnya dalam namun sederhana:
Kekuatan rakyat kecil sering diremehkan, padahal mereka adalah fondasi. Jika fondasi goyah, bangunan megah tak akan berdiri lama.

Di balik kelucuannya, karya ini mengajak kita bertanya:

  • Siapa sebenarnya yang kuat?

  • Siapa sebenarnya yang bergantung pada siapa?

  • Dan sampai kapan beban itu akan dipikul?

Lukisan ini bukan sekadar satire. Ia adalah cermin. Kadang kita si kecil. Kadang kita si besar. Dan kadang, tanpa sadar, kita tersenyum di atas pundak orang lain.

Humor membuatnya ringan.
Maknanya membuatnya berat.

Dan justru di situlah kekuatan karya ini berada.

>> Lukisan ini meggambarkan betapa tajirnya keluarga tikus, simbol klasik tentang kelicikan, kerakusan, dan kemampuan bertahan hidup di balik bayang-bayang

Judul: Keluarga Tikus Tajir Melintir
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 100cm x 150cm
Media: Cat Akrilik diatas kanvas
Tahun: 2025
Harga: Rp.75.000.000;


Informasi dan pembelian:
Email: javadesindo@gmail.com
Tep-Whatsapp: 081329732911

Lukisan ini seperti tamparan halus yang dibungkus jas mahal, dari sisi penyampaian, sang seniman dengan cerdas memilih tikus sebagai tokoh utama—simbol klasik tentang kelicikan, kerakusan, dan kemampuan bertahan hidup di balik bayang-bayang. Namun di sini, tikus-tikus itu bukan makhluk got atau gudang beras. Mereka duduk santai di sofa kulit mewah, memakai jas rapi, kacamata hitam, kalung emas, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Mereka bukan sekadar tikus. Mereka adalah “kelas atas”.

Ada humor yang terasa geli sekaligus getir. Bayangkan: hewan kecil yang biasanya kita usir dengan sapu, kini tampil bak konglomerat metropolitan. Pose mereka percaya diri, kaki menyilang, tangan bertengger santai di sandaran kursi. Bahkan anak-anak tikus pun sudah bergaya seperti pewaris tahta finansial. Seolah-olah pesan yang disampaikan: ketika kekuasaan diwariskan, bahkan yang kecil bisa tumbuh menjadi raksasa—asal duduk di kursi yang tepat.

Detail-detailnya berbicara keras tanpa perlu teriak. Tumpukan uang, jam tangan mewah di meja, gelas kristal, hingga latar kota modern—semua adalah simbol kemapanan. Namun penggunaan tikus sebagai subjek utama mengubah kemapanan itu menjadi satire. Ada sindiran tentang kerakusan, tentang gaya hidup glamor yang mungkin dibangun dari sesuatu yang “digerogoti” sedikit demi sedikit.

Lucunya, ekspresi mereka tetap kalem. Tidak ada wajah bersalah. Tidak ada kegelisahan. Justru terlihat elegan dan santai. Ini yang membuat karya ini cerdas: ia tidak menuduh, ia tidak menunjuk. Ia hanya memperlihatkan. Dan penontonlah yang merasa tertohok.

Secara visual, kontras warna hitam pada tubuh tikus dengan kilau emas dan cahaya kota menciptakan aura dramatis. Mereka terlihat dominan. Seolah dunia kota itu milik mereka. Komposisi duduk berkelompok juga mempertegas solidaritas—ini bukan tikus sendirian, ini sistem.

Yang membuatnya unik adalah keseimbangan antara komedi dan kritik sosial. Kita bisa tersenyum melihat tikus berdasi dan berkacamata hitam, tetapi setelah beberapa detik, senyum itu berubah menjadi renungan. Siapa sebenarnya tikus dalam kehidupan nyata? Apakah selalu yang kecil? Atau justru yang duduk nyaman di kursi empuk?

Pada akhirnya, lukisan ini bukan sekadar potret keluarga tikus kaya raya. Ini adalah cermin. Dan seperti cermin yang jujur, ia tidak pernah berbohong—meski kadang membuat kita ingin berpaling.

Friday, April 11, 2025

Dengan judul "Akibat Sok Jagoan", lukisan ini langsung berbicara sejak detik pertama dilihat


Judul: Akibat sok Jagoan
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 97cm x 66cm
Media: Cat Akrilik diatas kanvas
Tahun: 2025

Ulasan perspektif, pesan dan makna lukisan:

Bayangkan seorang pria yang baru saja menyelesaikan pidato penuh gaya tentang "ketegasan, nyali, dan prinsip" di warung kopi, lalu sepuluh menit kemudian tersungkur di pinggir jalan karena salah mengira siapa lawannya. Itulah kira-kira fragmen hidup yang dibekukan dalam karya ini—sebuah snapshot visual tentang seseorang yang hidupnya baru saja dipoles ulang oleh realita, pakai kuas besar bernama karma.

Dengan judul "Akibat Sok Jagoan", lukisan ini langsung berbicara sejak detik pertama dilihat. Sosok laki-laki yang digambarkan duduk lunglai dengan mata lebam ungu, pipi memar seperti bekas dipelintir kenyataan, dan mulut cemberut yang tak mampu berkata-kata—semuanya begitu ekspresif, begitu menyedihkan, tapi... lucu. Ya, ini adalah tragedi yang sudah melewati batas waktu kedaluwarsa dan berubah jadi komedi.

Wajahnya menyiratkan satu hal: "Saya baru saja kalah telak, dan saya tidak tahu harus mulai menyesal dari bagian mana dulu." Dari hidung yang merah lebam? Dari jas mahal yang kini tampak seperti kostum badut patah hati? Atau dari sepatu mengkilap yang sia-sia tidak menyelamatkan harga dirinya?

Visual yang Ngakak Tapi Ngena

Ini tidak sedang melukis pria biasa. ini melukis persona, archetype, bahkan mungkin karikatur kolektif dari orang-orang yang merasa sudah paling tahu cara hidup. Yang gaya jalannya mendahului logikanya. Yang menganggap volume suara lebih penting dari isi argumen. Yang percaya bahwa topi fedora dan jas coklat adalah seragam resmi kepercayaan diri.

Teknik realisme-kartunal di sini sangat strategis. Tubuh tokohnya tidak proporsional, dengan tangan dan kaki seperti boneka karet yang kehilangan udara. Tapi bagian wajahnya dilukis dengan sangat serius dan teliti—satu ironi visual yang menyindir: bahwa sering kali, kita terlalu serius membentuk wajah luar, sementara fondasi kepribadian kita masih seperti balon air di panas matahari.

Latar polos krem-oranye yang hangat justru membuat memarnya makin mencolok. Tidak ada distraksi. Tidak ada penonton. Hanya dia dan hasil dari kebodohannya sendiri. Ini adalah panggung satu orang, satu pelajaran, dan satu luka batin.

Pesan Moral: Jagoan Tanpa Isi Akan Diisi Oleh Realita

Lukisan ini adalah memoar visual untuk ego yang jatuh. Dan ia memberikannya tanpa ceramah, tanpa penghakiman, tapi dengan senyum menyeringai. Seolah-olah dia berkata:
"Sombong itu boleh, asal tahu kapan berhenti dan kapan ngaca."

Karya ini seperti teman yang tidak menasihati, tapi menemani di saat kamu sadar:
“Oke, ternyata aku tolol. Tapi setidaknya, sekarang aku tahu.”

Friday, October 6, 2023

Menyentuh Anjing Rotweiler dengan goresan seni keindahan

Anjing Rottweiler atau Rotties, demikian sebutan akrab bagi pencinta ras anjing ini, merupakan salah satu ras anjing cerdas, kuat, aktif, pekerja keras, dan penjaga terbaik di dunia.  Rottweiler juga menjadi salah satu ras anjing paling populer di Amerika Serikat lantaran kepribadian dan keserbagunaan yang dimilikinya. 

Anjing Rottweiler memiliki penampilan berotot, dada datar, mata selalu waspada, serta warna bulu hitam mengkilap dengan tanda coklat pada wajah, dada, dan kakinya. 

Dari sudut pandang anatomi, hewan peliharaan ini menarik untuk onyek lukisan, menyentuh lebih dalam lagi tentang makna dan filosofi dari obyek Anjing Rotweiler adalah kesetiaanya pada majikan, kekuatan dan kecerdasanya.


" Rotweiler " karya Heno Airlangga
Ukuran: 90cm x 70cm
Media: Acrylic on canvas
Tahun: 2023


Wednesday, June 9, 2021

>> LUKISAN KONTEMPORER KARYA HENO AIRLANGGA, VOL. 9

Informasi harga dan pembelian:
Telp-Whatsapp: 081 329 7 329 11
Email: henoairlangga@gmail.com



Judul: Raja Rimba Sejahtera
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 100cm x 150cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Diatas singgasana Rimba
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 100cm x 150cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Berjalan diatas kekuatan dan keberanian
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Mengatur siasat berburu
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Ir. Soekarno dan Ibu Fatmawati
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Ir. Soekarno menjelang proklamasi kemerdekaan
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Kekuatan diri Bung Karno
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Kerendahan hati seorang Pemimpin
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 100cm x 70cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Keteladanan sang pemimpin
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 90cm x 70cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Ketulusan jiwa untuk Bangsa Indonesia
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 70cm x 53cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Menatap optimis masa depan Indonesia
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 70cm x 53cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021




Judul: Model telanjang 1 ( karya repro dari karya asli Basuki Abdullah )
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 100cm x 150cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Model telanjang 2 ( karya repro dari karya asli Basuki Abdullah )
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Model telanjang 3 ( karya repro dari karya asli Basuki Abdullah )
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Pengabdian Jendral Soedirman untuk Indonesia
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Presiden Joko Widodo tersenyum
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 90cm x 70cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Presiden Soekarno ( karya repro dari karya asli Basuki Abdullah )
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Gelora semangat Bung Karno ( karya repro dari karya asli Basuki Abdullah )
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Senyum lembut putri ku
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 90cm x 70cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Wajah bahagia Bung Karno
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 93cm x 70cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Pemimpin bersahaja
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 70cm x 45cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Keberanian melalui kegelapan
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 70cm x 90cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Kuda hitam Gagah, pemberani dan cerdik
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 70cm x 100cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Kemenangan Merah Putih
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 98cm x 72cm
Media: Textured acrylic on canvas
Tahun: 2021

Tuesday, February 9, 2021

>> LUKISAN MODERN KARYA HENO AIRLANGGA, VOL.3

Informasi harga dan pembelian lukisan:
Telp-Whatsapp: 081 329 7 329 11
Email: henoairlangga@gmail.com


Judul: Metamorphosis
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Mawar merah untuk Ayah
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 55cm x 40cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Makan Siang
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Lockdown
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Keep spirit
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 55cm x 40cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Millennial Propaganda
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 80cm x 55cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Mind control
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: New idea
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Family is home
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Duo curly bersaudara
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 121cm
Media: Acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Diagonal
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Circuit
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 100cm
Media: Acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Blue in minority
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 40cm x 55cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Beautiful life
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 55cm x 40cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Beautiful be yourself
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 55cm x 40cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: a thousand way to a vision
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 40cm x 55cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Password
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Play Victim
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 40cm x 55cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Quantum leap
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Real men
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Ruang Toleransi
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 150cm x 121cm
Media: Acrylic on canvas
Tahun: 2021



Judul: Secangkir kopi malam
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 80cm x 55cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Think fresh
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Untitled imagination
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021



Judul: Transformation
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 42cm x 30cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021