Email: javadesindo@gmail.com
Tep-Whatsapp: 081329732911
Lukisan ini seperti tamparan halus yang dibungkus jas mahal, dari sisi penyampaian, sang seniman dengan cerdas memilih tikus sebagai tokoh utama—simbol klasik tentang kelicikan, kerakusan, dan kemampuan bertahan hidup di balik bayang-bayang. Namun di sini, tikus-tikus itu bukan makhluk got atau gudang beras. Mereka duduk santai di sofa kulit mewah, memakai jas rapi, kacamata hitam, kalung emas, dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Mereka bukan sekadar tikus. Mereka adalah “kelas atas”.
Ada humor yang terasa geli sekaligus getir. Bayangkan: hewan kecil yang biasanya kita usir dengan sapu, kini tampil bak konglomerat metropolitan. Pose mereka percaya diri, kaki menyilang, tangan bertengger santai di sandaran kursi. Bahkan anak-anak tikus pun sudah bergaya seperti pewaris tahta finansial. Seolah-olah pesan yang disampaikan: ketika kekuasaan diwariskan, bahkan yang kecil bisa tumbuh menjadi raksasa—asal duduk di kursi yang tepat.
Detail-detailnya berbicara keras tanpa perlu teriak. Tumpukan uang, jam tangan mewah di meja, gelas kristal, hingga latar kota modern—semua adalah simbol kemapanan. Namun penggunaan tikus sebagai subjek utama mengubah kemapanan itu menjadi satire. Ada sindiran tentang kerakusan, tentang gaya hidup glamor yang mungkin dibangun dari sesuatu yang “digerogoti” sedikit demi sedikit.
Lucunya, ekspresi mereka tetap kalem. Tidak ada wajah bersalah. Tidak ada kegelisahan. Justru terlihat elegan dan santai. Ini yang membuat karya ini cerdas: ia tidak menuduh, ia tidak menunjuk. Ia hanya memperlihatkan. Dan penontonlah yang merasa tertohok.
Secara visual, kontras warna hitam pada tubuh tikus dengan kilau emas dan cahaya kota menciptakan aura dramatis. Mereka terlihat dominan. Seolah dunia kota itu milik mereka. Komposisi duduk berkelompok juga mempertegas solidaritas—ini bukan tikus sendirian, ini sistem.
Yang membuatnya unik adalah keseimbangan antara komedi dan kritik sosial. Kita bisa tersenyum melihat tikus berdasi dan berkacamata hitam, tetapi setelah beberapa detik, senyum itu berubah menjadi renungan. Siapa sebenarnya tikus dalam kehidupan nyata? Apakah selalu yang kecil? Atau justru yang duduk nyaman di kursi empuk?
Pada akhirnya, lukisan ini bukan sekadar potret keluarga tikus kaya raya. Ini adalah cermin. Dan seperti cermin yang jujur, ia tidak pernah berbohong—meski kadang membuat kita ingin berpaling.







0 comments:
Post a Comment