Daftar pengunjung terbaru

Senin, 10 Agustus 2026

Lukisan Modern " Diantara Bisikan Iblis dan Malaikat " Filosofi Pergulatan Batin Manusia


Judul: Diantara bisikan iblis dan malaikat
Pelukis: Heno Airlangga
Ukuran: 80cm x 55cm
Media: Acrylic on paper
Tahun: 2021
Harga: Rp.35.600.000;


“Diantara Bisikan Iblis dan Malaikat” merupakan sebuah lukisan modern yang menghadirkan refleksi mendalam tentang pergulatan batin manusia—sebuah pertarungan yang tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi terus berlangsung di dalam ruang kesadaran. Lukisan ini memandang kehidupan bukan sekadar rangkaian peristiwa yang datang dan pergi, melainkan sebagai kumpulan situasi yang setiap saat menempatkan manusia pada pilihan: mengikuti dorongan menuju kebaikan atau menyerah kepada dorongan yang membawa pada keburukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berhadapan dengan begitu banyak peristiwa. Ada yang sederhana, seperti menghadapi perkataan seseorang, mengambil keputusan kecil, menahan emosi, memilih untuk memaafkan, atau menentukan apakah akan berkata jujur. Ada pula peristiwa besar yang datang secara tiba-tiba dan mengubah arah kehidupan. Tidak semua kejadian dapat diprediksi, tidak semua keadaan dapat dikendalikan, dan tidak semua respons manusia lahir dari pertimbangan yang tenang. Justru dalam situasi-situasi seperti itulah pergulatan batin menjadi semakin nyata.

Di dalam diri manusia terdapat suara yang mengajak untuk berhenti sejenak, berpikir, mempertimbangkan akibat, menjaga hati, dan memilih jalan yang benar. Suara ini dalam lukisan disimbolkan sebagai malaikat—representasi dari bisikan kebaikan, kejernihan hati, kasih sayang, kesabaran, kejujuran, pengendalian diri, dan kesadaran moral. Ia tidak selalu hadir sebagai suara yang keras. Sering kali, bisikan kebaikan justru datang dengan sangat lembut: jangan membalas, jangan menyakiti, jangan mengambil yang bukan hakmu, jangan menyerah pada amarah, pilihlah yang benar meskipun tidak mudah.

Namun pada saat yang sama, ada pula dorongan lain yang berusaha menarik manusia menuju arah sebaliknya. Dorongan untuk membalas ketika disakiti, mengambil keuntungan ketika memiliki kesempatan, berbohong demi menyelamatkan diri, mempertahankan ego, memelihara dendam, menikmati keburukan, atau melakukan sesuatu yang sebenarnya diketahui salah. Dalam karya ini, dorongan tersebut disimbolkan sebagai iblis—bukan sekadar sosok mistis, melainkan metafora tentang sisi gelap manusia yang selalu berusaha memengaruhi keputusan melalui godaan, ego, keserakahan, kemarahan, kebencian, dan keinginan sesaat.

Di antara dua kecenderungan itulah manusia berada.

Tidak ada manusia yang setiap saat berada dalam keadaan sepenuhnya tenang. Bahkan seseorang yang tampak kuat dan bijaksana dari luar dapat mengalami pertempuran panjang di dalam dirinya. Ada saat ketika hati mengatakan “lakukan yang benar”, sementara ego berbisik “lakukan apa yang menguntungkanmu.” Ada suara yang mengatakan “maafkan”, sementara suara lainnya mengatakan “buat dia merasakan penderitaan yang sama.” Ada dorongan untuk berkata jujur, tetapi ada pula godaan untuk menyembunyikan kebenaran karena takut kehilangan sesuatu.

Di situlah sesungguhnya medan pertempuran manusia berada—bukan selalu di luar dirinya, tetapi di dalam dirinya sendiri.

Secara visual, bahasa bentuk dan warna dalam lukisan ini memperkuat gagasan tersebut. Dominasi warna biru menghadirkan kesan ruang batin yang luas, dingin, sekaligus penuh kemungkinan. Biru dapat dibaca sebagai simbol kesadaran dan kedalaman pikiran, tetapi juga sebagai ruang yang tidak pernah benar-benar tenang. Di dalamnya muncul bentuk-bentuk geometris, garis-garis yang saling berpotongan, bidang abu-abu, serta sapuan merah dan hitam yang terasa lebih agresif. Kontras tersebut seolah menggambarkan berbagai energi psikologis yang saling tarik-menarik.

Bentuk lingkaran dan bidang yang menyerupai simbol mekanis dapat dibaca sebagai metafora perjalanan pikiran yang terus bergerak. Sementara itu, garis-garis merah yang menembus dan menghubungkan berbagai bidang memberikan kesan energi, konflik, dorongan, bahkan ketegangan emosional. Warna merah memiliki daya psikologis yang kuat—ia dapat berarti keberanian dan kehidupan, tetapi dalam konteks karya ini juga dapat mengingatkan pada amarah, hasrat, konflik, dan godaan yang mudah membakar pertimbangan manusia.

Warna hitam yang hadir dalam sapuan-sapuan tegas menghadirkan sisi yang lebih berat dan misterius. Ia seperti bayangan dari pikiran manusia—bagian yang tidak selalu ingin diperlihatkan kepada orang lain. Sementara warna putih memberikan jeda visual yang dapat dimaknai sebagai ruang kejernihan, harapan, dan kemungkinan untuk kembali memilih jalan yang benar. Dengan demikian, warna-warna dalam karya ini tidak sekadar menjadi unsur estetis, tetapi berfungsi sebagai bahasa simbolik yang menggambarkan kompleksitas kehidupan batin.

Yang menarik, malaikat dan iblis dalam karya ini tidak harus dipahami sebagai dua sosok yang benar-benar berada di luar manusia. Keduanya justru dapat dibaca sebagai simbol dari dua kecenderungan yang terus hadir dalam diri manusia itu sendiri. Kebaikan dan keburukan bukan sekadar sesuatu yang kita lihat pada orang lain; keduanya dapat muncul dalam diri kita, bergantung pada bagaimana kita merespons setiap keadaan.

Sebab peristiwa yang sama dapat melahirkan respons yang berbeda.

Ketika seseorang dihina, ia dapat memilih membalas atau menahan diri. Ketika memperoleh kekuasaan, ia dapat menggunakannya untuk melayani atau menindas. Ketika mendapatkan kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, ia dapat mengambilnya atau memilih kejujuran. Ketika memperoleh keberhasilan, ia dapat bersyukur atau menjadi sombong. Bahkan ketika mengalami kegagalan, ia dapat belajar dan bangkit atau membiarkan kekecewaan berubah menjadi kebencian.

Peristiwa tidak selalu menentukan siapa kita. Cara kita merespons peristiwa itulah yang perlahan membentuk siapa diri kita.

Karena itu, pertarungan antara “iblis” dan “malaikat” tidak pernah benar-benar selesai. Ia dapat muncul kembali setiap kali manusia menghadapi pilihan. Bahkan setelah seseorang memenangkan satu pertarungan batin, pertarungan berikutnya dapat datang melalui peristiwa yang berbeda. Hari ini mungkin seseorang berhasil menahan amarah; esok ia diuji oleh keserakahan. Hari ini ia mampu memaafkan; esok ia diuji oleh pengkhianatan. Hari ini ia memilih kejujuran; esok ia kembali berhadapan dengan kesempatan untuk memperoleh keuntungan melalui kebohongan.

Maka, kemenangan manusia bukanlah ketika ia tidak pernah mendengar bisikan keburukan, melainkan ketika ia mampu mengenali bisikan tersebut dan memilih untuk tidak mengikutinya.

Di sinilah karya Diantara Bisikan Iblis dan Malaikat memiliki pesan yang sangat manusiawi. Ia tidak berbicara tentang manusia yang sempurna, tetapi tentang manusia yang terus berusaha menjadi lebih baik. Manusia yang jatuh, kemudian bangkit. Manusia yang pernah salah, tetapi masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Manusia yang terkadang kalah oleh emosinya, tetapi masih dapat belajar mengendalikan dirinya.

Pada akhirnya, setiap manusia memiliki ruang untuk memilih. Tidak semua keadaan berada dalam kendali kita, tetapi respons terhadap keadaan sering kali masih berada dalam wilayah pilihan kita. Kita tidak selalu dapat menentukan apa yang datang ke dalam kehidupan, tetapi kita dapat berusaha menentukan bagaimana kita menyambut, menghadapi, dan meresponsnya.

Di antara bisikan iblis dan malaikat, keputusan terakhir tetap berada di tangan manusia.

Dan mungkin, inilah pertanyaan paling penting yang ingin ditinggalkan oleh lukisan ini kepada setiap penikmatnya:

Ketika kehidupan menghadirkan sebuah pilihan, ketika tidak ada seorang pun yang melihat, dan ketika hanya hati kita sendiri yang mengetahui jawabannya—bisikan mana yang akan kita ikuti?

Bisikan yang membawa kita menuju kebaikan, atau bisikan yang perlahan menjauhkan kita darinya?

Koleksi lukisan tersedia, lukisan bersertifikat keaslian dan bertanda tangan dari pelukis langsung, melayani pemesanan dan pengiriman lukisan ke seluruh Indonesia, jaminan lukisan terkirim dalam kondisi baik sampai di alamat tujuan, gratis ongkos kirim.

Informasi dan pembelian:
Email: henoairlangga@gmail.com
Telp-Whatsapp: 081 329 7 329 11


0 komentar: